Hades [4-6]




[4]

Kelambuku, merah marun bertahtakan kerlip untaian air mata siren yang buruk rupa. Indah dan ironis. Dengan benang-benang keemasan memilin ujung selimut, bunga ungu yang berpendar menguarkan bau manis di ujung ruangan dan... tubuh terlelap kekasihku. Persephone-ku, cintaku, guratan halus dalam detak jantungku. Segalanya bagiku.

Kini dia tertidur di ranjangku, di hadapanku, tanpa busana. Bibirnya yang kemerahan itu basah. Sesekali dia bergerak dalam tidurnya menyibak rambut emasnya dan merintih dalam tidur. Kelopak matanya merona sebagaimana pipinya yang kucium dengan seluruh hasratku yang mendalam. Betapa indahnya Persephoneku!

Sebenarnya mudah bagiku untuk meraih tangannya dalam genggaman tanganku, melumat bibirnya dalam panasnya gelora membara ciumanku, membisiki puluhan bahkan ratusan mantra cinta di telinganya. Menghancurkannya dan keutuhannya tanpa sekalipun dia sadari bahwa aku ada. Menculiknya, merengkuh tubuhnya dan menikmatinya.

Tapi apa yang kulakukan?

Keangkuhan dan kepura-puraan menang atas segala napsuku. Aku ingin kekasihku tahu akulah yang menculiknya, Si Penjahat nista. Dia melakukan cara terliciknya demi mendapatkan seuntai kata cinta dan keutuhannya. Aku melakukan apapun untuk menjadikannya milikku.

Ah... pantaskah aku memilikimu, kekasihku?

Pantaskah aku, Si Penjahat nista ini tertawa penuh kemenangan atas dirimu di bawah lingkup kelambu merah marunku?

Ya, benakku menjerit. Ya untuk segala jenis pertanyaan setan itu! Aku memulas senyum tipisku, menelusuri lekuk tubuh Persephone dengan sorot mataku. Menikmatinya, mendengarkan rintihan tidur penuh mimpi buruknya dan menyulut visi-visi kotor dalam benakku membakar tubuhku.

[5]

Pintu kamarku terbuka dan tampaklah sosok Hypnos bertubuh tinggi tegap diambang pintu. Langkahnya bergemerincing seturut baju zirah peraknya beradu dengan lantai pualam hitam kamarku. Dia menatap ke arah ranjangku sekilas, mengernyit, kemudian berlutut dihadapanku.

“Kupikir memang sudah waktunya,” tukasku tak sabar.

“Maafkan aku, Yang Mulia,” sahut Hypnos datar, menatap ujung jubahku. “Salahku karena tidak secepatnya kembali ke sisimu.”

“Permintaan maafmu dikabulkan.”

Hypnos menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya berterima kasih, kemudian sesaat berikutnya dia mengeluarkan sebuah botol. Bentuknya unik, diukir penuh huruf-huruf dan berisi cairan kebiruan yang berpendar. “Penarik kesadaran, Yang Mulia,” katanya.

Kuambil botol itu dan segera berjalan melewatinya memasuki kelambuku. Disana, sosok Persephone yang jelita tidur sempurna dalam pembaringannya, membuat jantungku bergemuruh gembira. Kuteguk cairan kebiruan yang Hypnos bawakan untukku, membimbing tubuh kekasihku, mencium bibirnya dan mengalirkan cairan kebiruan itu melalui mulutnya.

Ramuan itu bekerja cepat. Tubuh kekasihku mulai menghangat. Rintihannya semakin pelan dan napasnya teratur. Sebentar lagi, ketika kesadarannya tertarik sepenuhnya dia akan membuka matanya.

“Yang Mulia,” panggil Hypnos. “Dia-kah Persephone jelita, putri Demeter?”

“Ya, Hypnos. Dia-lah kekasihku.” Aku memandangi wajah Persephone dengan rasa sayang. “Dan apakah yang menimbulkan kerut di dahimu ketika aku menyebutnya demikian?”

“Hamba tidak bermaksud lancang, Yang Mulia.”

“Lancang menurutku,” tukasku jengkel. “Katakanlah Hypnos! Kekhawatiranmu, kecemburuanmu, pikiran kotor dalam benakmu!”

Hypnos menghela napas. “Hanya sebuah kekhawatiran, Yang Mulia. Tidak lebih.”

“Lanjutkan.”

“Dunia atas,” tutur Hypnos dengan suara datarnya yang tanpa emosi. “telah berubah begitu drastisnya. Butir-butir putih jatuh menutupi tanah gersang dan dingin akibat kemurkaan Demeter. Dia mencari putrinya.”

Aku menghela napas keras-keras. Kelebatan ucapan Helios tua mengusik benakku. “Apa kaupikir dia tahu mengenai putrinya?”

“Sejauh ini tidak ada berita lain selain jeritan dua peri air pendamping Persephone yang diubah Demeter menjadi siren,” Hypnos menggelengkan kepalanya. “Tapi cepat atau lambat dia pasti mengetahuinya.... Yang Mulia.”

Denyut frustasi membuatku mengedutkan rahang ketika kalimat terakhir Hypnos menusuk jantungku bagai pasak. Bulu romaku berdiri. Gelenyar rasa puas menelusupi pori-pori tubuhku dan membungkam jelaga hitam keangkuhanku. Aku tersenyum.

“Akan menjadi hal yang menarik, bukan begitu Hypnos?” tawaku riang.

Hypnos menegakkan kepalanya, kedua mata esnya menatapku nyaris tak percaya. Tapi dia diam, menutup mulutnya rapat-rapat.

“Pergilah Hypnos. Persiapkan dirimu untuk sebuah hiburan yang menyenangkan.”

[6]

Terbangunlah dia, kekasihku yang jelita ketika Hypnos akhirnya pergi dari kamarku. Dia mengerutkan keningnya, lemah menatapku dengan kedua mata hijaunya yang tak berdaya. Kekasihku merintih, risih atas sentuhanku, kemudian terisak melihat kulit putihnya yang berbalut selimut bersulam emas milikku.

Aku menyeka air matanya dengan jemari tanganku. Mencium pipinya yang berubah asin oleh aliran sungai air mata. Kesedihan yang terpancar di wajahnya membuat geloraku kembali memuncak. Bibirnya yang merah dan penuh, garis lekuk tubuhnya, rambut emasnya. Sekarang dia berada di dalam dekapanku. Lihatlah, apa yang kulakukan pada putrimu, Zeus saudaraku!

“Sakitkah?” bisikku pelan, mengecup lehernya.

Kekasihku diam, kristal-kristal air mata membanjiri pipinya. Dia bergelung dalam selimutnya, memunggungiku. Bahunya bergetar. Persephone tampak ringkih dan hancur dalam gelayut noda dosa yang kulimpahkan padanya.

“Sayangku,” bisikku lagi. Aku berusaha menggapai bahu kecilnya. Tapi dia menolak sentuhanku. Dia semakin tenggelam dalam tangisannya.

Kenapa....?” tanya kekasihku bergetar. “Kenapa harus aku...?”

Rasa bersalah mengiris hatiku. Penolakannya, penyesalannya, air matanya membuatku terluka. Seluruh suara-suara dalam benakku menghujatku dan dosaku. Bergaung lama, menghasilkan getaran kesedihan dan memadamkan gelora nista dalam mataku.

Ku tarik selimutku menutupi bagian tubuh polosnya yang menantang seraya mendekap tubuhnya dalam pelukanku. Dia terus menangis. Bodohnya aku mengira perkataanku kelak akan membuat lidahnya kelu dan menghentikan tangisnya. Bodohnya aku mengira dengan mudahnya dia akan kembali utuh sebelum kusentuh.

Tapi kupikir hanya itu yang bisa kulakukan untuknya. Ku belai rambut emasnya dan berbisik pada telinganya. “Persephone-ku, kekasihku... Aku mencintaimu.